Director TalksHeritage dalam Sudut Pandang Pembuat Film

Director Talks: Mistik Melampaui Ketakutan

Menelaah kembali hubungan antara mistik, tradisi komunal, dan kebudayaan melalui medium sinema kontemporer bersama sutradara Wregas Bhanuteja.

Hari & TanggalJumat, 18 September 2026
Waktu Acara16.00 WIB
TempatRuang Kaca Bawah (Selatan), PDIN Yogyakarta
Director Talks: Mistik Melampaui Ketakutan
KOTABARU HERITAGE FILM FESTIVAL 2026

Director Talks: Mistik Melampaui Ketakutan

Terbuka untuk Umum
OTS ONLY
Reservasi KursiOTS ONLY

Pendaftaran online untuk sesi ini telah ditutup. Tiket tersedia On The Spot (OTS ONLY) langsung di venue PDIN Yogyakarta.

OTS ONLY
Narasumber / Pengisi

Wregas Bhanuteja

Peran

Sutradara Film 'Para Perasuk'

Tentang Pengisi

Wregas Bhanuteja adalah sutradara lulusan IKJ yang meraih Best Short Film di Cannes Critics’ Week melalui Prenjak (2016) dan 12 Piala Citra melalui Penyalin Cahaya (2021), serta film-filmnya berkompetisi di berbagai festival internasional, termasuk Sundance Film Festival.

Informasi Tempat & Fasilitas

Venue:Pusat Desain Industri Nasional (PDIN), Jl. Terban, Yogyakarta

Ruang / Lokasi:Ruang Kaca Bawah (Selatan), PDIN Yogyakarta

💡 Disarankan hadir 15 menit sebelum sesi dimulai untuk registrasi kehadiran di lokasi.

Catatan Program

Director Talks: Mistik Melampaui Ketakutan

Tema: “Heritage dalam Sudut Pandang Pembuat Film

Sejarah dan kebudayaan Indonesia tumbuh melalui beragam tradisi, termasuk pengalaman-pengalaman yang hari ini kerap kita kategorikan sebagai mistik. Namun, dalam kehidupan modern, mistik sering ditempatkan berseberangan dengan rasionalitas: dianggap sebagai sesuatu yang irasional, terbelakang, bahkan perlu ditinggalkan. Dalam sinema Indonesia, kecenderungan tersebut menemukan bentuk yang populer melalui maraknya horor supranatural; ketika mistik terutama hadir sebagai sumber teror, ketakutan, dan hiburan.

Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja menawarkan kemungkinan yang berbeda. Film ini tidak semata-mata menggunakan mistik untuk menakut-nakuti, tetapi menghadirkannya sebagai bagian dari pengalaman komunal: sebuah praktik yang mempertemukan tubuh, tradisi, kesenangan, kepercayaan, ruang hidup, dan relasi antarmanusia. Kerasukan tidak berhenti sebagai fenomena yang harus ditakuti, melainkan membuka kemungkinan untuk mengalami sesuatu yang berada di luar batas keseharian.

Berangkat dari film tersebut, Director Talk ini mengajak kita melihat kembali hubungan antara mistik, tradisi, dan kebudayaan melalui medium sinema. Jika heritage adalah sesuatu yang terus hidup, berubah, dan dinegosiasikan oleh masyarakat, bagaimana kita memahami praktik-praktik mistik yang juga terus mengalami perubahan dan penafsiran? Apakah modernitas harus selalu berarti meninggalkan yang dianggap irasional? Dan ketika sinema mencoba melihat mistik melampaui fungsi terornya, pengalaman macam apa yang sesungguhnya sedang dibuka?